El Clasico: Madrid Benci Permainan Keras
Sami Khedira/dok. adoncapruk
Satu kekalahan yang didapat saat bertandang ke Levante menjadi pelajaran penting bagi Real Madrid. Seluruh skill dan kerja sama Madrid mentah di hadapan strategi permainan keras yang ditunjukkan Levante.
Skuad Levante menghalangi upaya Madrid mengembankan permainan secara maksimal. Mereka tidak memberi ruang bagi pemain-pemain Los Blancos untuk berkreasi atau melakukan manuver. Tidak peduli harus mendapat kartu kuning akibat melakukan pelangggaran keras terhadap lawan.
Madrid sebenarnya mampu menguasai pertandingan. Jumlah tendangan ke gawang dan penguasaan bola unggul dibanding Levante. Namun, akibat gaya bermain keras yang ditampilkan skuad Levante, Madrid benar-benar tidak bisa berkembang, bahkan cenderung mengikuti kemauan tuan rumah.
Alhasil, Madrid pun ikut terbawa bermain keras. Seperti ingin menyaingi tujuh kartu kuning yang diperoleh Levante, lima pemain Madrid diganjar kartu kuning.
Los Blancos kian kesulitan saat Sami Khedira dikartu merah wasit akibat dua kali menerima kartu kuning. Inilah pertanda strategi Levante sukses. Pasalnya, Madrid makin kedodoran ketika kalah jumlah pemain.
“Saya pikir para pemain Madrid kurang siap menghadapi situasi di atas lapangan dan malah masuk dalam perangkap lawan. Khedira ikut berperan terhadap kekalahan kami, selain karena kinerja wasit yang juga buruk,” ucap pelatih Madrid, Jose Mourinho, kala itu.
Artinya, Madrid bukan tanpa kelemahan. Melawan tim yang ngotot dan keras, skuad Los Blancos bisa terbawa arus. Alih-alih tampil dengan kemampuan terbaik, justru mereka terpancing ikut bermain keras dan masuk dalam perangkap lawan.
El Clasico: Barcelona Alergi Benteng Kokoh
Getafe vs Barcelona/adoncapruk Images
Barcelona mengalami kekalahan pertama di Liga BBVA musim ini saat bertandang ke Getafe. Sedikit berbeda dengan gaya bermain Levante yang keras untuk mengadang permainan cepat Real Madrid, Getafe malah memeragakan satu permainan defensif yang superkokoh.
Jika melihat statistik permainan, Barcelona unggul jauh dari Getafe. El Barca menguasai bola hingga 72,38% sementara Getafe hanya 27,62%. Barcelona juga melakukan tujuh tendangan ke gawang berbanding dua milik Getafe. Jumlah tendangan sudut yang diraih Barcelona mencapai 13, sedangkan Getafe hanya dua kali.
Namun, dari statistik yang minim itu Getafe mampu mencetak satu gol. Lewat sebuah tendangan sudut yang sebenarnya tidak sering diperoleh Getafe, Juan Valera bisa memanfaatkannya dengan maksimal. Sundulannya tak bisa ditepis kiper Victor Valdes.
Tak ada kartu merah dalam laga ini. Jumlah kartu kuning pun relatif berimbang. Getafe mendapat empat kartu kuning, sementara Barcelona tiga kartu kuning. Namun Barcelona dibuat mati kutu dengan gaya defensif total yang diperagakan Getafe.
Saat skuad El Barca mencoba menyerang, nyaris seluruh pemain Getafe ada di kotak penalti mereka. Pemain-pemain dengan kemampuan dribel mumpuni seperti Lionel Messi atau Thiago Alcantara pun dibuat frustrasi. Tembok tebal yang dipasang Getafe sangat sulit ditembus.
“Kami sebenarnya sudah bermain maksimal. Tapi memang ada situasi yang bisa terjadi seperti hasil pada pertandingan kali ini. Saya tidak menyalahkan pemain karena mereka sudah berusaha. Ini menjadi pelajaran bagi kami untuk menghadapi laga-laga berikutnya sebelum bertemu Real Madrid,” kata Josep Guardiola, entrenador Barcelona.
Sebuah pe-er yang rasanya harus segera ditemukan jawabannya oleh Guardiola. Madrid memang bukan tim yang doyan bertahan. Namun jika pertahanan Los Blancos tampil sangat solid, harus ada seseorang yang bisa memecahkan kebuntuan. Setidaknya bisa membuat pemain Barcelona tidak sampai merasa frustrasi.
by duniasoccer.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar